Fish

Rabu, 15 Mei 2013

KEMAJUAN-KEMAJUAN KEBUDAYAAN ISLAM PADA MASA ABBASIYAH DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

 BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Sejarah tak ubahnya kacamata masa lalu yang menjadi pijakan dan langkah setiap insan di masa mendatang. Seperti yang kita ketahui setelah tumbangnya kepemimpinan masa khulafaurrasyidin maka berganti pula sistem pemerintahan Islam pada masa itu menjadi masa daulah, dan dalam makalah ini akan disajikan sedikit tentang masa Daulah Abbasiyah.
“... masa Daulah Abbasiyah adalah masa keemasan Islam,  dalam masa itu berkembanglah dengan maraknya berbagai cabang ilmu pengetahuan, dan disalin pula ke dalam bahasa Arab bermacam ilmu pengetahuan dari bahasa lain...”
Kemajuan kebudayaan islam pada masa Daulah Abbasiyah sering dianggap sebagai sebuah nostalgia bagi umat Islam, yang tidak akan terwujud di zaman sekarang. Sejarah mencatat bahwa pada masa Daulah Abbasiyah tersebut merupakan puncak keemasan atau kejayaan umat Islam.  Pada masa inilah lahir berbagai ilmu pengetahuan, agama, budaya  serta beragam penerjemahan-penerjemahan ke dalam bahasa lain.
B.       Rumusan Masalah
1.         Sejarah berdirinya Daulah Abbasiyah
2.         Kemajuan- kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian 
3.         Faktor- faktor yang mempengaruhi kemajuan tersebut
C.       Tujuan Penulisan
1.         Mengetahui sejarah berdirinya Daulah Abbasiyah
2.         Mengetahui kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian
3.         Mengetahi faktor- faktor yang mempengaruhi pada masa tersebut



BAB II
PEMBAHASAN

A.      Sejarah  Berdirinya Daulah Abbasiyah
Daulah Bani Abbasiyah yang didirikan pada tahun 132 H / 750 M oleh Abdullah al-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas merupakan kelanjutan dari pemerintahan Daulah Umayyah yang telah hancur di Damaskus. Gerakan bani Abbas pada waktu itu yang dipimpin oleh Ibrahim Al Imam melakukan gerakan diam-diam atau rahasia yang berpusat di Khurasan. Dengan pimpinan panglima perang yang bernama Abu Muslim Al Khusrasany, Bani Abbas dapat menguasai daerah Khurasan dan Kufah. Setelah Kufah dapat dikuasai sepenuhnya, diangkatlah Abul Abbas menjadi Khalifah pertama pada tahun 132 H / 750 M. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Daulah Bani Umayyah  pada saat itu. Dinamakan kekhalifahan Daulah  Abbasiyah,  karena para pendiri dan penguasa dinasti ini merupakan keturunan Bani Abbas, paman Nabi Muhammad SAW.[1]
Zaman ini adalah  zaman keemasan Islam, dalam zaman ini kedaulatan kaum Muslim telah mencapai puncak kemuliaan, baik kekayaan, kemajuan maupun kekuasaan. Dalam zaman inilah lahir berbagai ilmu islam, dan terjadi penerjemahan-penerjemahan kedalam bahasa lain (selain arab). Masa Daulah Abbasiyah di Baghdad ialah 5 setengah abad, yaitu sejak bangunnya dalam tahun 132 h ( 750 m) sampai jatuhnya kota Baghdad ke dalam tangan Hulako pada Tahun 656 h ( 1268 m).[2]
Para ahli budaya islam membagi masa kebudayaan islam di zaman daulah abbasiyah kepada 4 masa, yaitu:
1.      Masa Abbasyi I 132-232 h. (750-847 m.), yaiitu semenjak lahirnya Daulah Abbasiyah sampai meninggalnya Khalifah Al Wasiq.
2.      Masa Abbasyi II 232-334 h. (847-946 m.), yaitu mulai khalifah Al Muttawakal sampai berdirinya Daulah Buhaiwiyah di Baghdad.
3.      Masa Abbasyi III 334-467 h. (946-1075 m.), yaitu dari berdirinya Daulah Buhaiwiyah sampai masuknya kaum Saljuk si Baghdad.
4.      Masa Abasyi IV 467-656 h. (1075-1261 m.), yaitu masuknya orang-orang Saljuk ke Baghdad sampai jatuhnya Baghadad ketangan bangsa Tatar dibawah pimpinan Hulako.[3]

B.       Kemajuan-kemajuan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Kesenian
1.    Kemajuan di bidang Ilmu Pengetahuan
a.         Kemajuan di bidang Ilmu Agama
Ilmu agama yang dimaksud disini adalah ilmu-ilmu yang muncul ditengah-tengah suasana hidup keislaman berkaitan dengan agama dan bahasa Al Qur’an. Ilmu agama telah berkembang sejak masa Dinasti Umayyah. Namun, pada masa Dinasti Abbasiyah ia mengalami perkembangan dan kemajuan yang luar biasa. Masa ini melahirkan ulama-ulama besar dan karya-karya yang agung dalam berbagai bidang ilmu agama.
a)        Ilmu Tafsir
          Pada masa Abbasiyah ini ilmu tafsir mengalami perkembangan yang sangat pesat dengan dilakukannya penafsiran secara sistematis, berangkai dan menyeluruh serta terpisah dari hadis. Pada masa ini muncul berbagai aliran dengan tafsirnya masing-masing, seperti Ahlussunah, Syiah, dan Mu’tazilah. Pada masa ini corak tafsir ada dua macam, yaitu:
         


Pertama, Tafsir Bi Al Ma’tsur, yaitu penafsiran al quran berdasarkan sanad dan periwayaatan Al Quran. Tokohnya adalah Al Subhi (w.127 H) Muqatil Bin Sulaiman (w.150 H) dan Muhammad Bin Ishaq. Kedua,  Tafsir Bi Al Ro’yi, yaitu penafsiran berdasarkan ijtihad.[4]  Tokohnya adalah Abu Bakar Al Asham (w 240 H) dan Abu Muslim Al Asfahani (w. 322 H).
b)        Ilmu Hadis
Pada masa Abbasiyah, kegiatan dalam bidang pengkodifikasian hadis dilakukan dengan giat sebagai kelanjutan dari usaha para ulama sebelumnya. Pengkodifikasian hadis sebelum masa Abbasiyah dilakukan tanpa mengadakan penyaringan, sehingga bercampur antara hadis nabi dan yang bukan dari nabi. Maka para ulama islam pada masa ini berusaha semaksimal mungkin untuk menyaring hadis-hadis Rasulullah agar diterima sebagai sumber hukum.[5]
Penyaringan hadis diadakan dengan melakukan  kritik terhadap sanad hadis. Metode kritik inilah yang merupakan dasar munculnya kualitas hadis shohih, hasan, dhaif.
Para ulama yang terkenal adalah Imam Bukhari, Abu Muslim Al Jajjaj, Ibnu Majjah, Abu Daud, Al Turmudzi, dan Al Nasai. Karya mereka dikenal dengan nama Ak Kutub As Sittah.
c)        Ilmu Kalam
Ilmu Kalam lahir karena dorongan untuk membela islam dengan pemikiran-pemikiran filsafat dari serangan orang kristen yahudi yang mempergunakan senjata filsafat, dan untuk memecahkan persoalan agama dengan kemampuan pikiran dan ilmu pengetahuan. Pada masa ini muncul ulama-ulama besar dibidang ilmu kalam, yaitu Abi Huzail Al Allaf Al Baqilani, Al Juwaini, Al Ghozali dan Al Maturidi.



d)       Ilmu Fikih
Pada masa ini terdapat 4 imam madzhab yang ulung ketika masa itu. Mereka adalah Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad Bin Hanbal.
b.         Kemajuan Ilmu Umum
a)        Filsafat
Filsafat muncul sebagai hasil integrasi antara islam dengan kebudayaan klasik Yunani yang terdapat di Mesir, Suria dan Persia, dan mulai berkembang pada masa Khalifah Harun Al Rasyid dan Al Ma’mun. Tokoh filosof muslim yang tekenal adalah Ya’kub bin Ishaq al Kindi.
b)        Kedokteran
Pada masa ini ilmu kedokteran telah mencapai puncak tertinggi yang melhirkan dokter yang terkenal, yaitu Yuhannah bin Musawaih (w. 242 H). Pada masa ini telah banyak buku-buku kedokteran, karangan dalam bentuk ensiklopedi yang diterjemahkan dalam bahasa latin, dan sebagainya.
c)        Astronomi
Astronomi islam yang terkenal pada masa ini adalah al Fazzari yang pertama kali menyusun atrolaber (Alat yang dahulu dipakai sebagai pengukur tinggi bintang), Al Fargani yang telah mengarang ringkasan ilmu astronomi yang kemudian diterjemahkan kedalam bahasa latin.
d)       Ilmu Pasti / Matematika
Ilmu ini dibawa oleh ilmuan india pada masa khalifah Mansur dalam buku Sindahind, dan diterjemahkan oleh al Fazzari, yang memperkenalkan sistim angka Arab dan angka nol yang kemudian dikembangkan lagi oleh Al Khawarizmi dan habash yang memuat tabel angka-angka dan kemudian menyusun buku tentang berhitung dan aljabar. Karya yang terkenal adalah Hisab Aljabar wa Al Mukabalah.
e)        Geografi
Pada masa Abbasiyah Perlawatan Kaum muslimin telah sampai ke India, Srilangka, Malaysia, Indonesia, Cina, dan lain lain. Dari perjalanan tersebut kaum muslimin berusaha melukiskan selengkapnya ihwal negeri-negeri yang dilihatnya sehingga melahirkan geografi islam ternama. Mereka adalah Ibn Khardazabah dengan karyanya al Masalik wa al Mamalik, ibn Al Haik dengan karyanya al Ikli, dan sebagainya.
2.    Kemajuan di bidang Teknologi
Pada tahun 765, fakultas kedokteran pertama didirikan oleh Jurjis Ibnu Naubakht. Sekitar tahun 990 M, Ibnu Firnas seorang ilmuwan dari Andalusia (Spanyol ) memimpikan bagaimana agar suatu saat manusia bisa terbang bebas di angkasa laksana burung, dia terinspirasi kejadian Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw, tetapi dia berpikir bahwa manusia biasa tak mungkin bisa naik Bouraq kendaraan Nabi Saw untuk Isra’ Mi’ raj, karena dia hanya manusia biasa, bukan seorang nabi.
Ibnu Firnas ( Armen Firman ), mulai meneliti gerak aerodinamika, fisika udara, dan anatomi burung dan kelelawar. Sampai pada suatu saat dia menciptakan sebuah alat terbang seperti sayap kelelawar, lalu dia menaiki menara Masjid Cordoba, disaksikan oleh ribuan orang di bawahnya, lalu dia melompat dan melayang terbang sejauh kira-kira 3 km dan mendarat dengan selamat. Ribuan orang bertepuk tangan atas ciptaannya. Sebaliknya masyarakat Eropa yang saat itu sedang di era kegelapan, heboh sendiri karena menganggap Ibnu Firnas melakukan sihir yang mereka saja belum pernah melihatnya. Alat terbang Ibnu Firnas inilah yang menginspirasi Wright Bersaudara menciptakan pesawat terbang pada awal abad 19.
3.    Kemajuan di bidang Kesenian
a.       Senibudaya
a)      Seni Bahasa
b)      Kissah dan riwayat
c)      Drama
b.      Seni suara
a)      Penyusunan kitab musik
b)      Pendidikan musik
c)      Jenis musik
d)     Musik sufi
e)      Pabrik alat musik
f)       Para penyanyi
g)      Seni tari
c.       Seni rupa
a)      Seni pahat
b)      Seni ukir
c)      Seni sulam
d)     Seni lukis
d.      Seni bangunan

C.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Daulah Abbasiyah
1.    Faktor Politik
a.    Pindahnya ibu kota negara dari Syam ke Irak dan Baghdad sebagai ibu kotanya ( 146 H).
b.    Banyaknya cendikiawan yang diangkat menjadi pegawai pemerintahaan dan istana. Kholifah- kholifah Abbasiyah, misalnya Al Mansur, banyak mengangkat pegawai pemerintahan dan istana dari cendikiawan- cendikiawan Persia.
c.    Diakuinya Mu’tazilah sebagai madzhab resmi negara pada masa kholifah al Ma’mun pada tahun 827 M.
2.    Faktor Sosiografi
a.    Meningkatnya kemakmuran umat islam pada waktu itu.
b.    Luasnya wilayah kekuasaan islam, yang menyebabkan banyak orang Persia dan Romawi yang masuk Islam kemudian menjadi muslim yang taat.
c.    Pribadi beberapa kholifah pada masa itu, terutama pada maasa dinasti Abbasiyah I, seperti Al Mansur, Harun Al Rasyid dan Al Ma’mun yang sangat mencintai ilmu pengetahuan sehingga kebijaksanaannya banyak ditujukan pada kemajuan ilmu pengetahuan.
d.   Diadakannya pengaturan, pembukuan, dan pembidangan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu naqli seperti kedokteran, mantiq dan ilmu- ilmu riyadliyat, telah dimulai oleh umat islam dengan metode yang teratur.[6]
3.    Aktivitas Ilmiah
a.    Penyusunan buku- buku ilmiah
b.    Penerjemahan
c.    Pensyarahan
4.    Kemajuan Ilmu Pengetahuan
a.    Kemajuan ilmu agama
b.    Kemajuan ilmu- ilmu umum[7]




BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

Pada dasarnya Daulah ‘Abbasiyah ini terutama periode-periode awal adalah puncak keemasan peradaban Islam dari sanalah lahir beberapa tokoh yang mampu melahirkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan menjadi lebih maju. Ada beberapa faktor yang menyebabkan majunya ilmu pengetahuan pada masa Daulah ‘Abbasiyah diantaranya adalah adanya persamaan dalam hal superioritas antara bangsa Arab dan Bangsa non-Arab sehingga banyak menyumbangkan pemikir-pemikir yang handal tanpa memandang kesukuan dan bangsa. Factor kedua adalah dukungan dari penguasa saat itu diantaranya khalifah Harun al-Rasyid dan al-Ma’mun yang keduanya sangat mendukung terhadap ilmu pengetahuan dengan bangunnya Bait al-Hikmah yang salah satu aktivitasnya adalah gerakan penerjemahan buku-buku berbahasa asing baik itu Yunani, Persia, India maupun bahasa lainnya.





DAFTAR PUSTAKA

Hasjmy, A. 1973. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
Malik-Sy, Maman A, Gusnam Haris dan Rofik. 2005. Sejarah Kebudayaan Islam. Pokja Akademik UIN sunan Kalijaga.
Yatim, Badri. 2006. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.








[1] Forum Guru Bina PAI Madrasah Aliyah, Sejarah Kebudayaan Islam, (Sragen: CV. Akik Pusaka), hlm. 39
[2] A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam, ( Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hlm. 187
[3] Dr. Badri Yatim, M.A., Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada), hlm. 50
[4] Shubhi Shalih, Mabahits fi ‘Ulum Al Qur’an, (Kairo: Dar al-‘ilmi lil malayin, 1977), hlm. 289.
[5] Depag RI, Tim penyusun Teksbook Sejarah dan kebudayaan islam di Rektorat jendral kelembagaan agama islam, sejarah dan kebudayaan islam, Jilid I, Ujung Pandang, 1982., hlm. 158.
[6] Ahmad Amin, Dhuha Al Islam, (Beirut: Dar Al Kitab Al-‘Arabi, t.t ), hlm. 14
[7] Drs. H. Maman A. Malik Sy, MS, Sejarah Kebudayaan Islam, (Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga, 2005), hlm. 114- 131

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar